GREENRIVERNETWORK — Beijing – Seorang pria berusia 61 tahun di China timur mendadak terkena stroke tepat di hari pernikahannya. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya lumpuh total.
Lebih miris lagi, istrinya justru menguras tabungan sang suami hingga Rp2,3 miliar dan hanya menyisakan Rp90 ribu saja di rekeningnya.
Menurut laporan News Morning Post, pria bermarga Wang dari Shanghai itu sudah bercerai lebih dari 20 tahun lalu dan membesarkan anak perempuannya seorang diri.
Pada 2016, ia menikah lagi dengan Ren Fang, wanita yang usianya 16 tahun lebih muda. Tidak diketahui pasti bagaimana keduanya pertama kali bertemu.
Kerabat Wang menyebut, pria tua yang tinggal sendirian di Shanghai memang kerap jadi incaran calon pasangan.
“Paman saya punya pensiun tetap, properti, dan tunjangan relokasi,” ujar keponakan Wang.
Namun, ibunda Wang sebenarnya sejak awal menolak pernikahan itu karena khawatir perbedaan usia yang jauh membuat Ren punya motif tersembunyi, dilansir dari SCMP, Minggu (24/8/2025).
Di hari pernikahan, Wang tiba-tiba ambruk karena stroke dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sejak saat itu, kondisinya kian menurun dengan serangan stroke berulang.
Pada 2019, Wang sudah lumpuh di sisi kiri tubuh, tidak bisa bicara, dan hanya bisa berbaring di ranjang sambil berkomunikasi lewat gerakan tangan kanannya.
Keluarga akhirnya menitipkannya di panti jompo, di mana perawatan dibagi antara sang istri dan anak perempuan.
Uang Miliaran Lenyap
Tahun 2020, rumah lama Wang digusur. Sebagai ganti, ia dan putrinya mendapat unit flat baru plus kompensasi lebih dari 2 juta yuan (Rp4,5 miliar).
Tak lama setelah itu, Ren mengajukan agar Wang dinyatakan tidak cakap hukum dan menjadikan dirinya wali tunggal. Ia bahkan menuntut anak tirinya untuk mendapat bagian dari kompensasi properti.
Pengadilan memutuskan, Wang mendapat 1,1 juta yuan (Rp2,5 miliar) sementara sisanya diberikan ke anaknya. Tapi menurut putri Wang, uang ayahnya justru masuk ke rekening yang dikendalikan Ren.
Selama dua tahun, Ren diduga menarik uang dalam jumlah besar, bahkan pernah sampai 50.000 yuan (Rp113 juta) dalam sehari. Hingga Agustus tahun lalu, saldo hanya tersisa 42 yuan (Rp 95 ribu).
Tinggal Puluhan Ribu
![[Fimela] Uang Tunai](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/JhpKQ3zQLxbP2tpgyHPfQwyJH5s=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2966730/original/079732900_1573652679-bady-qb-67GC0YaeGQc-unsplash.jpg)
Putri Wang kemudian melayangkan gugatan untuk mengubah status perwalian. Ren berdalih uang tersebut dipakai untuk biaya panti jompo dan suplemen kesehatan. Ia mengaku menarik tunai untuk ditabung ulang di bank kampung halamannya demi bunga lebih tinggi.
Namun, sang putri menegaskan pensiun bulanan ayahnya sebesar 6.000 yuan (Rp3,6 juta) sudah cukup menutupi semua biaya.
Pengadilan akhirnya memenangkan pihak anak, memutuskan bahwa Ren dan putri Wang harus menjadi wali bersama. Segala keputusan finansial hanya bisa dilakukan dengan tanda tangan keduanya.
Upaya Ren berikutnya untuk membagi flat kompensasi pun kembali ditolak hakim.
“Hakikat dari perwalian bukan soal status, melainkan siapa yang benar-benar bisa merawat orang terdekat yang sudah tidak berdaya,” tegas sang hakim.
Kisah ini memicu diskusi panas di media sosial China.
“Wang seharusnya tidak menikah lagi. Pada akhirnya, dia kehilangan uang dan berakhir di panti jompo,” tulis seorang warganet.
“Kenyataannya, anak-anak sering sibuk bekerja sehingga orang tua yang ditinggal pasangan merasa makin kesepian. Saat mencari pendamping lagi, mereka harus ekstra hati-hati,” tulis warganet lainnya.