GREENRIVERNETWORK — Jakarta – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri, Helfi Assegaf mengungkapkan alasan beras premium langkah di pasar ritel modern. Salah satunya, imbas produsen tak menambah stok di etalase toko.
Helfi menjelaskan, produsen tak menambah stok karena takut ditangkap Satgas Pangan. Menyusul kasus penjualan beras tak sesuai mutu dan kualitas atau beras oplosan yang tengah santer dibicarakan.
“Memang ada penurunan (stok beras). Otomatis, karena informasinya mereka melakukan penarikan. Bukan penarikan, tapi menghabiskan stok yang ada di ritel dan tidak mengisi kembali. Apa masalahnya, kita dalami kembali. Kenapa tidak kamu mengisi? ‘Kami takut, Pak, nanti ditangkap’,” ungkap Helfi di Kantor Ombudsman, dikutip Rabu (27/8/2025).
Padahal, jika produsen itu menjual sesuai informasi dalam kemasan serta taat aturan, Satgas Pangan tak akan melakukan penindakan hukum. Misalnya bisa dibuktikan melalui hasil uji laboratorium mengenai mutu beras.
“Saya kira kalau kalian sesuai dengan apa yang kamu tempel di label, ya nggak ada masalah. Perizinanmu ada, semuanya ada. Terus apa masalahnya? Karena kalian takut sendiri menjual yang tidak sesuai komposisi,” kata dia.
“Kalau memang tidak mau dijual kemasan, ya harus ada labelnya, ya silakan dijual curah. Dijual curah enggak ada masalah, walaupun tetap diatur untuk standarnya. Dan itu sudah kita sampaikan ke para produsen,” Helfi menambahkan.
Masalah Berbelit
Masalah lainnya ditemukan oleh Helfi soal kelangkaan beras. Misalnya, kendala Perum Bulog yang tak bisa sembarangan memasok beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) ke toko ritel moderen.
Alasannya, mulai dari tidak adanya kerja sama antara Bulog dan ritel. Masalah lainnya, toko ritel belum juga memesan ke Bulog meski telah ada kerja sama karena belum mendapat arahan.
“Macam-macam lagi masalahnya. Jadi tidak semudah yang kita lihat gitu. Jadi butuh memang waktu, butuh proses, yang sudah pegang izin kerja sama pun tidak mengajukan PO. ‘Pak, segera mengajukan PO-nya’. ‘Ya Pak, kami belum ada instruksi’. Masih ada lagi. Jadi memang cukup panjang,” tutur Helfi.
Segera Terisi
Helfi memastikan setiap langkah yang dilakukan ini untuk memenuhi stok beras di toko ritel moderen. Dia memastikan dalam waktu dekat stok beras akan kembali terisi di pasaran.
“InsyaaAllah, dalam waktu beberapa hari ini akan segera dipenuhi oleh rekan-rekan dari Bulog untuk pengisian beras SPHP yang kualitasnya juga tidak kalah,” ucap dia.
“Yang SPHP maupun yang komersial, kualitas juga bagus. Saya kira tidak ada masalah. Ini yang kita harapkan,” Helfi menambahkan.
Produsen Beras Tak Punya Laboratorium
Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri, Helfi Assegaf mengungkapkan ada produsen yang tak memiliki laboratorium uji mutu kualitas beras. Namun, produsen itu menjual dengan label beras premium.
Padahal, hasil uji laboratorium merupakan hal penting untuk memastikan kualitas beras sesuai dengan label premium yang dibubuhkan dalam kemasan.
“Mereka menjual kemasan, tapi tidak punya lab. Artinya beras yang diproduksi ya sudah asal jadinya berapa saya tidak tahu, yang penting ‘saya jual premium’,” ungkap Helfi dalam diskusi di Kantor Ombudsman, Jakarta, Selasa (26/8/2025).